logo

tagline
shadow
 

Trailers
teaser

LIVE TWEET
Klarifikasi Kontroversi Film Soekarno


Klarifikasi dari Hanung Bramantyo selaku Sutradara Film Soekarno tentang Kontroversi dengan Pihak Ibu Rachmawati Soekarnoputri selaku Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno.


Awal pertemuan Hanung Bramantyo dan Ibu Rachmawati Soekarnoputri adalah pada saat Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) mengadakan latihan untuk pagelaran Maha Guru, kisah tentang Soekarno. Hanung Bramantyo pun diundang untuk dimintai masukan tentang pagelaran tersebut, namun dari pertemuan itu muncul gagasan tentang film Soekarno. Pembicaraan lalu membahas tentang investor film tersebut, Ibu Rachmawati akhirnya setuju menjalin kerjasama dengan Ram Punjabi dari MVP.

Memang benar adanya kesepakatan antara YPS yang diwakili Ibu Rachmawati Soekarnoputri dan Ram Punjabi dari MVP diadakan tanggal 17 Okt 2011. Isi perjanjian tersebut meliputi, bahwa pihak pertama (MVP) dan pihak kedua (YPS) terikat kerjasama untuk membuat film ini. Sumber referensi film ini adalah YPS itu sendiri dan sumber-sumber lainnya dengan bentuk kerjasama BAGI HASIL, artinya ini memang KOMERSIL.

Hal tersebut meliputi tahap preproduksi, produksi, posproduksi, dimana MVP akan memberikan modal uang dan keahlian sebagai produser. Sedangkan YPS & Ibu Rahmawati memberikan masukan dan referensi untuk film ini. Yang berarti hanya MASUKAN bukan keputusan.

Keterlibatan Rahmawati di pembuatan skenario dibuktikan dengan kehadirannya beserta tim YPS ke Novotel Bogor untuk melakukan Focus Group Discussion. Ada beberapa bukti dokumentasi pertemuan yang diadakan sekitar lima hari tersebut, pertemuan ini membedah kisah Soekarno dari 1901 hingga 1970.

YPS berhak mendapatkan profit sharing sebesar 10% dari keuntungan bersih film ini. Setelah dipotong pajak dan modal yang diberikan MVP sudah dikembalikan. Ini memperjelas bahwa film ini dikomersilkan dari awal. Perjanjian mengenai profit sharing ini hanya berlaku 5 tahun terhitung setelah film Soekarno rilis di bioskop Indonesia.

Pihak pertama (MVP) harus memberi downpayment kepada pihak kedua (YPS) sebesar 200jt. Uang harus diberikan selambat-lambatnya 2 minggu setelah perjanjian ditandatangani. Sesuai perjanjian, uang tersebut telah diberikan. Kerjasama ini tidak hanya pada proses produksi film, tapi termasuk peredaran, penayangan, perbanyakan dan tindakan komersil maupun non komersil lainnya.

Mengenai kepemilikan hak cipta, telah disepakati juga, yang memegang hak cipta film ini adalah pihak MVP Pictures, bukan pihak YPS. Pada awalnya, Ibu Rachmawati dan keluarga melakukan support yang luar biasa saat pembentukan skenario. Dibuktikan dengan mereka memberikan kuliah tentang sejarah Indonesia dan Bung Karno selama 4 hari, mereka juga meluangkan waktu untuk mengoreksi skenario. Memang banyak terjadi perbedaan pendapat saat pembuatan skenario, namun masih dalam batas normal dan tidak terjadi penyimpangan.

Menanggapi pihak yang menyatakan bahwa film ini tidak memiliki izin dari pihak keluarga Bung Karno, Hanung Bramantyo menyatakan bahwa dalam pembuatan sebuah film biografi, tidak ada peraturan bahwa harus meminta ijin kepada pihak keluarga tokoh tersebut. Namun untuk menjalankan pembuatan produksi film tersebut, merupakan hak prerogatif dari orang yang memiliki keinginan memproduksi film ini.

Kalau dilihat dari perjanjian yang sudah ada, seharusnya telah terjadi keterikatan yang menunjukkan adanya ijin dari pihak keluarga. Hanung Bramantyo juga mengaku tidak diberikan akses oleh Ibu Rachmawati untuk berhubungan dengan Guntur, anak pertama Bung Karno. Bahkan dengan Megawati pun tidak diberikan aksesnya.

Ada apa ini? Kenapa tidak diijinkan untuk berhubungan dengan mereka yang juga merupakan anak dari Bung Karno?

Menanggapi kontroversi tidak setujunya Ibu Rachmawati dengan sosok yang memerankan Bung Karno. Bahwa tim produksi telah melakukan casting kepada nama-nama yang diajukan oleh Rahmawati, namun masih dirasa kurang cocok. Melalui berbagai pertimbangan, termasuk melihat postur tubuh dan kemampuan aktingnya, dipilihlah Ario Bayu.

Ario  Bayu yang dirasa memenuhi kriteria sosok yang dicari, sosok yang bisa merepresentasikan Soekarno dengan baik. Ario yang yang dinilai tidak nasionalis, hanya karena tidak mengenal dengan baik siapa itu Bung Karno dianggap suatu kewajaran. Karena Ario tidak dibesarkan di Indonesia. Namun kembali lagi, pemilihan peran tersebut tidak didasarkan pada personality artis tersebut.

Hanung Bramantyo menyatakan berdasarkan pengalamannya mendirect artis yang hanya dinilai dari jiwa nasionalismenya saja, yang muncul nantinya adalah sebuah film yang terkesan merupakan film propaganda, karena mereka seakan enggan berakting wajar. Pemilihan peran terhadap Ario juga diharapkan bisa membawa film ini ke dunia luar, mengingat Ario adalah aktor internasional.

Selain karena permasalahan pemilihan pemeran, tidak ada permasalahan lain yang membuat YPS mengundurkan diri dari perjanjian. Karena kalau mengungkit masalah pelecehan sejarah pada skenario, itu tidak benar. Skenario film ini mengalami sekitar 16 kali revisi, dan Ibu Rachmawati mengikuti proses revisi sampai revisi yang ke-13 dimana plot cerita sudah benar-benar jelas.

Diperjelas lagi oleh Hanung Bramantyo bahwa film ini bertujuan menginspirasi generasi muda, dan semata-mata untuk tujuan pendidikan. Karena itu seharusnya yang membiayai film ini adalah negara dan tidak membutuhkan profit. Tapi film ini dibiayai swasta maka yang terjadi adalah bisnis, usaha menawarkan pemerintah membiayai film ini juga sudah dilakukan. Karena ternyata, pemerintah memiliki anggaran khusus, yaitu insentif untuk membiayai film-film pahlawan sebesar 10 milyar.

Namun usaha tersebut sia-sia, tidak ada realisasi dan tanggapan dari pemerintah. Maka, film ini akhirnya dibiayai oleh swasta. Secara keseluruhan dan sebuah film pendidikan sekalipun tidak bisa lepas dari aspek komersil, jika kita pikir kembali, tidak ada yang salah dengan aspek komersil. Hanya saja pola pikir masyarakat sudah terbentuk, memandang negatif hal-hal yang  komersil, karena dinilai hanya mementingkan keuntungan semata.


Informasi Lainnya :
- Official Trailer Film SOEKARNO : INDONESIA MERDEKA
- Klarifikasi Kontroversi Film Soekarno
- Konser Panggung Bung Karno!
- Konser Panggung Bung Karno!
- Selamat Hari Raya Idul Fitri
- Pengumuman Pemenang Kompetisi #SuratUntukBung!
- KOMPETISI.!!! Surat Untuk Bung!!!
- Teaser film SOEKARNO : INDONESIA MERDEKA
- Cast Film Soekarno

line
jne usee-tv kapal api
mvp mahaka dapur